PERADABAN ISLAM MASA DINASTI-DINASTI KECIL DI AFRIKA
A.BANI IDRISIYYAH
Dari keturunan Ali bin Abi Thalib yang
turun ke negri magribi timbulah seorang yang bijaksana dan cerdik,namanya
Idris.Dia dapat menguasai negri Talsaman dan seluruh magribi Al-Aqsa.
Didirikanya kota Fass(fez) yang merupakan pusat pemerintahan dan ditegakkannya
beberapa mesjid dan rumah tempat menyimpan buku buku ilmu.
Bani Idris memerintah lebih kurang
selama 263 tahun lamanya.Dua kerajaan yang merupakan lawan yang paling
besar yaitu kerajaan’ Ubaidiyum di
Afrika dan kerajaan bani Umaiyah di Andalusia.
Lantaran kekayaan dan gemuknya
pembendaharaan negrinya, raja raja yang bergelar khalifah itu dapat di kalahkannya di dalam
perjuangan perpacuan kekuasaan.
Pemerintahan Idrisiyyah ;
Idris I (172 -187H/789 – 803M)
Idris II (187-213 H/803 – 828M
Muhammad bin Idris II (213H – 828 M
Ali I bin Muhammad 221H – 837 M
Yahya I bin Muhammad 234 H – 848M
Yahya II bin Yahya
Ali II bin Umar
Yahya III bin Kasin
B. DAULAH
MURABITUN
Didirikan
oleh seorang alim besar di negeri Soes,dia bernama ‘Abdullah bin Tasyfin. Dia
mengangkat keponakannya Abu Bakar sebagai panglima,
partinya
dinamakan murabitin,artinya golongan yang bertekun menyembah Allah di dalam
Rubath[1]dan
bersatu setia anggota yang masuk dalam ikatan itu.
Penduduk Magribi baru mengakui
kekuasaan Murabitin pada masa pemerintahan pamanya Yusuf bin Tasyfim,Ia mampu menguasai negri Faas
dari tangan Bani Idris.
Pada masa kekuasaannya, Ia mampu
menguasai sebagian besar negeri Andalusia (Spanyol), dan setelah itu barulah
mereka mengarahkan langkah untuk menaklukkan Afrika Tengah.
Lamanya kerjaan Mulattsimin atau
Murabitin[2]itu
ialah 80 tahun. Kekuasaannya sejak negeri Afragah sebelah timur Spanyol sampai
ke Asybunah di tepi Pantai Lautan Tengah di sebelah barat Andalusia, sampai
juga di Adua dan pulau-pulau Bani Mazganah sampai ke Tanger, lalu ke hujung
Sus, sampai ke Bukit Emas dan Negeri Sudan.
Pemerintahan Kaum Murabbitin ;
Yahya bin Umar 448H, – 1056M
Abu bakar Bin Umar
Yusof bin Tasyfin 480H, – 1087M
Ali bin Yusof 500H, – 1106M
Tasyfin bin Ali 537H, – 1143M
Ibrahim bin Tasyfin 541H, – 1145M
Ashak bin Ali 542H, – 1146M
C.DAULAH MUWAHHIDUN
Kerajaan ini dipelopori oleh Muhammad
bin Abdullah Tumrut. Dia adalah seorang yang tidak bersenang hati melihat
Daulah Murabitin. Di waktu mudanya ia telah mempelajari banyak ilmu,kemudian
dia pergi ke untuk
menambahraja ilmunya ke Imam Ghazali. Setelah itu ia mulai
mengkritik perbuatan Raja- raja Murabitin yang bersalahn dengan syarak Islam.
Dia mengimpulkan pengikut-pengikutnya yang dinamai ‘Al-Muwahhidun’
(bala tentara tauhid)[3]
Setalah di rasanya cukup kuat, maka pada tahun 1112 M mulailah peperangan
melawan kerajaan Murabitin. Meraka mulai mengalami kekalah saat mmeranri kota
Morocco,sehingga banyaklah tentara yang
lari.
Kemudian murid ‘Abdul Mu”min yang
dikenal cerdik dan luas pandangannya
mulai melanjutkan perjuangan gurunya itu,dan mulai mengumpulkan kembali
para pengikutnya,dan akhirnya Ia mampu menghapus kekuasaan Murabitin,bahkan
dilawannya pula raja Portugis pada tahun 114.
Sejak kekalahan Muhammad An Nasir pada
pertempuran di Toulose,mulailah orang-orang Spanyol memberontak kembali,dan
dalam tahun 647 jatuhlah kerajan itu, setelah memerintah 174 tahun lamanya.
Daulah Muwahhidin merupakan satu kerajaan yang
terbesar dan terkuat di Magribi
karena kekuatan armada lautnya,sehingga luaslah kekuasaan ke laut dan ke darat.
Pemerintahan Daulat Muwahhidin ;
Abdul Mu’min bin Ali 542H, – 1130M
Abu Ya’kub Yusof 558H, – 1163M
Abu Yusof Ya’kub Al-Mansur 580H, – 1184M
Muhammad An Nasir 595H, – 1199M
Yusof II Al Mustansir 611H, – 1214M
AbdulWahid Bin Yusof 620H, – 1223M
Abdullah Al ‘Adil 621H, – 1224M
Yahya bin An Nasir 624H, – 1227M
Abul Ula Idris Al Ma’mun 626H, – 1229M
AbdulWahid Ar Rasyid 630H, – 1232 M
Abul Hasan Ali As Sa’id 640H, –
1243M
Abu Hafas Umar Al Murtadha 642H, –
1244M
Abul ‘Ula Al Watsiq 665-667H /
1266-1269M
D. DAULAH BANI MARYAN
Berdiri pada tahun 614H.- 1217M. Asal
usul bani Maryan itu adlah dari bukit Zannanah di Magribi. Sebelum mereka
mengalahkan Magribi mereka hidup berpencar
di sebelah Sajalmasah dan Malwiyah sampai ke negeri Zab,sebab mereka
adalah kabilah-kabilah pengembara.
Dalam tahun 610M masehi,mereka datang
ke kota Magribi dan menemukan keadaan kota
kosong.kemudian mereka merampas kota,dan menguasainya. Yang menjadi
kepala persatuan kabilah liar itu adalah ‘Abdul Haq bin Mahyu.
Mendengar kabar itu khalifah Bani
Muwahhidin mengusir kabilah Maryan. Pengusiran pertama tidak berhasil. Kemudian
bani Maryan menguatkan kedudukannya.Melihat kedudukannya terancam,kaum
Muwahhidin meluncurkan serangan kedua,di dalam pertempuran hebat dengan
musuh,Amir Abdul Haq terbunuh.
Bukan seperti bala tentara
lainnya,bila mati kepalanya mereka mundur. Melainkan lantaran terbunuhnya orang
yang paling mereka cintai, naiklah kemarahan mereka berlipat ganda. Lantaran semangat
dan kemahuan yang kuat itu,majulah mereka ke muka,dapatlah musuh itu mereka
kalahkan.
Lantaran kematian Abdul Haq mereka
angkatlah gantinya ,putranya Abu Sa’id Usman. Melihat kemunduran kerajaan
Muwahhidin,maka diteruskannyalah perjuangan ayahnya,diperluasnya jajahan,
diperbanyaknya negeri yang ditaklukan. Hingga mereka pernah mengalahkan bangsa
Spanyol.
Di akhir kekusaan bani Maryan bangsa
Portugis sudah menaklukan Magribi Al Aqsa. Di waktu itulah bangsa Portugis dan
Spanyol mencari jalan semudah-mudahnya ke Hindia.Di dalam pengembaraannya itu
dapatlah Portugis menguasia Sibtah pada tahun 818 (1415)setelah dikepung selama
6 tahun lamanya.Dalam tahu 869H ditaklukan lagi Tanjah(Tanger).Tahun 879H
dirampasnya negeri Asila.Demikian uga yang lain-lain,sehingga kerajaan Bani
Maryam tidak kuasa lagi menangkisnya.
5
Kekuasaan Daulah Bani Maryan ;
Osman I 614H,- 1217
Muhammad I 637H, - 1239M
Abu Yahya Abu Bakar 642H,1224M
Umar bin Abu Bakar 656H, - 1258M
Abur Rabi’ Sulaiman 708H, - 1308M
Abu Said Osman II 710H,- 1310M
Abu Yusuf Ya’kub 657H,- 1310M
Abu yusof Ya’kub 657H, - 1259M
Abu Ya’kub Yusof An Nasir li –
Dinillah 685H,- 1286M
Abu Tsabit ‘Amir 706H,-1307M
Abdul ‘Abbas Ahmad (kedua kali)
789H,-1387M
Abu Faris 768H,- 1393M
Abu Hasan Ali 732H,- 1331M
Abul ‘Inan 749H,- 1348M
As Sa’id 759H,- 1348M
Abu Salim Ibrahim 760H,-1359M
Abu Umar Tasfin 762H,- 1361M
Abdul Halim 763H,-1361M
Abu Zayyan Muhammad II 768H,-1366M
As Sa’id II 774H,-1372M
Abul Abbas Ahmad 776H,-1374M
Musa786H,-1374M
Al Muntasir 786H,-1384M
Al Watsiq 788H,-1386M
6
Abu Sa’id 814H,-1411M
Said bin Ya’kub 824H,-1421M
Abdullah 826H,-1423M
Muhammad bin Abu ‘Inan
Ahmad
Al Maula Abu Hasun 826H,-14658M
Abdullah 875H,-1470M
Al Maula Ahmad
Al Maula An Nasir Bukanatuf
908H,-1502M
Al Maula Muhammad 914H,-1508M
Al Maula Abu Hasun 961H,-1554M
E.
BANI WATAS
Bani Watas berasal dari kabilah –
kabilah yang datang dari desa – desa Rif. Yang mula-muula jadi sultan Abu Abdillah
Muhammad Asy-Syekh, tahun 876H. Mula-mula dikuasainya negeri Faas(Fez).
Di zaman kenaikan beliau inilah jatuhnya kerajaan bani Al Hamar dari Spanyol
Dan sebagai dimaklumi,sejatuh Bani Al Hamar, dilakalah ada alagi kuasa Islam di
Spanyol. Malahan bangsa portugis telah Mulai menghamparkan Sayap Kekuasaannya
Ke Negeri-negeri islam di pantai Afrika.
Setelah wafat Asy-Syeikh,digantikanlah
dia oleh Muhammad Al Burtaqali. Di zaman pemerintahannya bertambah besarlah
kuasa bangsa Portugis, dipersimpitnya kehidupan
kaum muslimin.
Setelah dia Wafat, digantikan oleh
Muhammad Abu Hasun. Tidak lama dia memerintah, ditangkaplah dia oleh seorang
kerabatnya dan dilucuti pangkatnya. Dia digantikan oleh Abul Abbas Ahmad.
Tiba-tiba sultan Abul Abbas Abu Hasun
dapat anik tahta sekali lagi,dapat juga diambilnya hak nya kembali. Tetepi
Syeihk Sa’di tidak mau membiarkan bani Watas tinggal berkuasa. Kemudian sultan
meminta bantuan ke Daulat Osmaniyah. Setelah terjadi perang besar barulah di
kuasainya negeri Fez. Kemudian merka kembali ke negerinya,tinggallah Abu Hasun
bersama seldadunya yang lemah.
7
Melihat itu majulah kembali
syekh Sa’di menyerang Negeri itu dengan tentara yang besar,sehingga dalam tahun
961H,dapatlah Faz dapatlah Faz diambilnya kembalidan sultan Abu Hasun
dibunuhnya. Dengan kematian sultan Abu Hasun itu runtuhlah kerajaan Bani Watas
atau Kerajaan Bani Maryan yang kedua.
F.
ASYRAF SA’DIYIN
Pada permulaan kuru ke 16 yang menjadi
raja di Morocco,ialah syarif-syarif keturunan bani Sa’d. Titel Syarif
dilekatkan ialah pada keturunan Rasulullah
dari sisi Hasan Bin Abu Thalib sebagai juga titel sayed diberikan orang
kepada keturunan Husain[4].
Mereka itu ialah keturunan dari cabang bani Zaidan. Neneng moyang kaum mereka
yang dahulu sekali mendirikan kerajaan ini ialah Muhammad Abu Abdillah Al Qaim
Bi Amrillah.Beliau adalah seorang yang teguh memegang agama dan saleh.dia pergi
naik haji, dan disana dia bertemu dengan beberapa ulama yang terkemuka, yang
mengakui akan kelebihannya di dalam amal agama.
Al Qaim Bi Amrillah raja yang pertama
dari Asyraf Sa’diyun menyerukan jihad kepada seluruh muslimin terhadap bangsa
Portugis yang rupanya telah hendak berlantas angan ke negeri islam. Peperangan
mereka berhasil baik terhadap bangsa Portugis maupun Bangsa Spanyol,dan kadang
kadang tidaklah mereka enggan menghadapi kekuasaan Bani Osman (Turki) yang ketika
itu hendak melebarkan sayap penjajahannya pula ke negeri-negeri Afrika.
Demikinlah raja berganti raja,sehingga akhirnya jatuh juga kerajaan Asyraf itu
pada tahun 1069H.
G.ASRAF
HASANIYIN
Asal mulannya adalah : Maula Muhammad
bin Syarif mendirikan suatu angkatan
tentara,banyak anak negeri Sajalmasah yang ikut di dalam angkatan itu,yaitu
pada tahun 1045H. Yang menyebabkan timbul semangat menegakkan timbul tentara
baru itu ialah lantaran bala tentara Abu Hasun,raja yang akhir daru bani Watas
telah berbuat sewenang-wenang di dalam wilayah Sajalmasah, mereka telah
bersikap loba dan tamak, sebagaimana kebanyakan kekuasaan orang-orang besar di
zaman pemerintahan yang lama itu.
Hal ini telah menimbulkan rasa benci
dan bosan,orang memintaadanya seorang penganjur yang akan sanggup melepaskan
mereka dari kezaliman pihak
8
kekuasaan,syarat-syarat
itu bertemu pada diri Muhammad bin Syarif.Maka sepakatlah orang mengangkat
Maula Muhammad itu menjadi kepala pada tahun 1050H, di zaman ayahnya masih
hidup dan ayahnya itu sendiri ikut beserta orang banyak mengangkat Maula
Muhammad menjadi raja bagi Sajalmasah. Baru saja dia berkuasa, ditaklukannyalah
negeri Dai’ah dan sekitarnya,dan
pengikutnya kian lama kian bertambah besar jumlahnya.
Kerajaan itu mempunyai armada yang
kuat, seluruh negeri Magribi serta pantainya itu dijaga dengan kapal-kapal
perang yang besar-besar,sehingga musuh tidak mudah menyerang.
H.BANI
ZAYYAN
Dalam tahun 632 H, berdirilah kerajaan
Bani Zayyan. Negeri yang takluk kepadanya ialah Telmsan Dan Aljazair.
Kekuasaannya sampai ke negeri Faas,10 orang banyak rajanya dan runtuhlah
kerajaan itu pada tahun 796H.
I.UBAIDIYIN
(FATIMIYIN)
Dalam tahun 296 H, berdiri kerajaan
Ubaidiyin atau Fatimiyin. Asalnya ialah dari seseorang pengajur Syi’ah yang
fanatik dalam fahamnya, cabang dari firqah isma’illiyah,namanya ialah Abu
Abdillah Asy-Syi’i, dimulai seruannya ua magribi.dia diberi gelar ayah al
Mahdi, sebab anaknya yang bernama Ubaidillah mendakwahkan dirinya sebagai al
Mahdi yang ditunggu kedatangannya buat menyiarkan keadilan di dalam alam. Dia
makin kuat pada zaman khalifah Bani ‘Abbas di Baghdad,Al Muktafi Billah.
Seketika kerajaan Bani ‘Abbas
bermaksud hendak menangkapnya, larilah Abu Abdillah bersama anaknya Muhammad
Abul Qasim ( Ubaidillah ) ke negeri magribi,dengan menyamar sebagai saudagar.
Dia menetap ke Sajalmasah sedang yang menjadi Amir disana pada waktu itu ialah
orangbesar yang bernama Alyasa’. Alyasa’ tau , maka ditangkapalah Ubaidillah
itu dan dipenjarakannya.Tatkala Abu Abdillah tau Akan perbuatan itu, dengan
gagah berani rumah Alyasa’ di kepungnya dan Alyasa’ dapt dikalahkannya lalu
diperbarunya bai’at ‘Ubaidillah. Sejak itu berkuasalah dia di Sajalmasah,
akhirnya dapat di kalahkannya Aghlab dan dipakai gelar ‘Amiril Mu’minin Al
Mahdi[5].
Setelah itu dikirimnyalah gapnor-gapnor
merangkap keala parang,untuk mengalahkan negeri-negeri yang lain.
Kerajaan Ubaidiyin ditukar menjadi
kerajaan Fatimiyah ketika Raja pada saat itu Al Mu’iz liDinillah berhasil
menduduki negeri Mesir.
9
J.
BANI ZIRI
Dalam tahun 361H, berdirilah kerajaan
baniZiri di Tunisia. Bani Ziri itu bukan Arab, tetapi Barbar, satu kabilah dari
kalangan bangsa itu yang bernama Sanhaji.
Disebabkan perhubungan yang tidak baik
dahulu, dan Raja-raja Fatimiyah di Mesir tidak sekuat dahulu lagi, sempat Bani
Ziri memisahkan diri dan memeaklumkan menjadi raja sendiri,sampai delapan orang
rajanya, dan 181 tahun lama kekuasaannya. Tetapi kalau dihitung sejak mereka
berkuasa dibawah penilikan kerajaan Ubaidiyin, tentulah 267 tahun,yaitu sejak
tahun 335H.
K.BANI
HAFAS
Tahun 603H, berdiri kerajaan Bani
Hafas di Tunisia. Inilah kerjaan baru yang setelah leburnya kerajaan Bani Ziri.
Kerajaan ini dibangsakan kepada Abu Hafas ‘Umar
bi Abu Yahya Al Hantami, salah seorang dari pengikut Muhammad bin
Tamrut, yang mengakui dirinya jadi Al Mahdi dan mendirikan kerajaan Muwahhidin
dahulu. Setelah Ibnu Tamrut mangkat,
diangkat orang menjadi gantinya ‘Abdul Mu’min yang menjadi kepala wazirnya.
Luasnya kekuasaan bani Hafas ialah
sampai ke Eropa dan sebagian besar dari benua Afrika,malahan dari kaum muslimin
Andalusia mereka menerima bai'’t juga.
Kerajaan ini mulai mundur, setelah
keturunan-keturunan yang datang dibelakang berebut pengaruh dan dengking
mendengki di antara satu cabang keturunan dengan lain keturunan. Keadaan ini
diketahui oleh kerajaan Osmaniah (Turki) sehingga dengan mudah kerajaan ini
dapat menaklukan negeri itu dalam tahun 982H, ketika itu raja-raja sultan
Muhammad bin Hasan, dan raja Turki sultan Silaiman I, lamanya kekuasaan bani
Hafas ialah 379 tahun.
L.HUSAINIYAH
Sejak tahun kerajaan bani Hafas, maka
yang berkuasa di Tunisia ialah Kerajaan Turki. Kerajaan Turki biasanya mengirim
wakil untuk memerintah di sana,sampai tahun 1117H. Pada tahun itu rakyat
Tunisia meminta kepada kerajaan Turki supaya wakil kerajaan Turki yang bernama
Husain bin ‘Ali Pasha diangkat menjadi raja mereka, dengan diberi gelar Pasha.
Kemudian10
lazimlah
gelar raja Tunis itu ‘Baai’, berasal dari bahasa Parsi Bey yang biasa di tulis
dalam huruf Arab - Turki ‘Bek’[6]
Kerajan ini mulai mengalami kemunduran
ketika raja Baai Muhammad Sadiq menandai perjanjian untuk menyerahkan kerjaan
Tunisia ke tangan Perancis.
M.QARAH MANELI
Dalam tahun1123H, berdiri kerajaan
Qarah Maneli di Tripoli. Qarah Maneli yang telah berhasil mendiikan kerajaan
ini memaklumkan kekuasaannya dan lepasnya dari segala pengaruh,sampai mereka
memerintah hampir 100 tahun di Tripoli. Kerajaan ini masyhur karena kekuatan
kapal-kapal perangnya, tetapi kemudian bertukar sifatnya menjadi lanun, bajak
laut. Sehingga kerajaan-kerajaan Eropa yang hendak mengirikan kapal ke timur,
terpaksa membayar jizyah kepada kerajaan itu supaya terlepas dari rampasan[7].
Dalam tahun 1251H, kerajaan
ini hancur, dan kian lama Tripoli kian jatuh langsung kebawah kekuasaan Turki.
Dalam tahun 1912M, Tripoli direbut oleh bangsa Italia dari tangan anak
negerinya, yang ketika iti pada lahirnya dibawah kekuasaan Turki,tetapi pada
hakikatnya dibawah pimpinan batin di dari kepala tariqat Sanusiah yang Masyhur.
11
BAB II
PERADABAN ISLAM PADA
MASA
DINASTI-DINASTI KECIL DI MESIR
A.Keturunan
Toulon
Kerajaan
bani Toulon berdiri pada tahun 254H. dibangsakan kepada Toulon ayah dari ahmad,
seorang kepala perang bangsa turki dari Turkistan. Pada mulanya dia menjadi
tawanan perang. Setelah ditawan dibawalah dia menghadap ibnu Asad As-Samahy,
Wali Negeri di Bukhara, di zaman pemerintahan Khalid Al-Ma’mun. pada tahun
200H. orang tawanan itu dikirim kepada khalifah.
Baginda
Al-Ma’mun amat tertarik melihat orang tawanan itu, amat tegap gagah perkasa
dan layak menjadi orang perang. Sebab
itu diangkatlah dia menjadi pegawai istana. Dan karena baik kelakuan dan banyak
jasanya, jabatan itu bertambah lama bartambah baik, sehingga akhirnya menjadi
kepala pengawal istana. Pada masa itu dia beroleh putera, yang kini lama kian
besar pula, dinamainya Ahmad. Sementara ayahnya telah menjadi pengawal, anaknya
Ahmad itu telah diangkat pula menjadi pembantu pengawal, dibawah didikan
ayahnya.
Dalam tahun 254H, oleh karena baik
kelakuan dan setianya, maka Ahmad bin Toulon itu diangkat oleh khalifah
Al-Mutawakkil menjadi Wali Negeri di Mesir. Setelah beberapa lama dia duduk di
negeri itu, dimulainyalah memperteguh kedudukannya. Dibelinya beberapa orang
budak bangsa Dailam dan bangsa Zanji, dicarinya pula orang Arab yang sudi [8]berkhidmat
kepadanya. Dimulainyalah maksudnya dengan terang-terangan, yaitu memutuskan
perhubungan dengan khalifah di Baghdad. Di atas mimbar pada hari jum’at
dimulanyalah memberhentikan ucapan pujian kepada khalifah, diganti dengan
pujian kepada Ahmad bin Toulon sendiri, sebagai Raja Mesir. Hasil cukai negeri
tidak dikirimkan lagi ke Baghdad.
Hal ini tentu saja menyakitkan hati
khalifah-khalifah, Al-Mu’tadhid Billah mencoba mengirim tentara buat
menaklukkan Mesir kembali, tetapi tidaklah berhasil, sebab beliau telah kuat.
Rakyat Mesir suka kepada pemerintahan
beliau. Sebab selama ini mereka membayar pajak yang amat berat, padahal tidak
ada yang tinggal
12
buat Mesir sendir. Semua dikirim ke Baghdad. Setelah
pemerintahan Ahmad bin Toulon, hasil-hasil itu telah dipergunakan unuk
kepentingan Masir sendiri. Bandar-bandar
air galian dicukupkan, benteng-benteng diperteguhkan dan usaha kekayaan rakyat
dipersubur, sehingga negeri makmur.
Setelah kuat kedudukannya di Mesir
itu, tidaklah dia hendak mencukupkan hingga itu saja, malahan dimulainya pula
meluaskan kekuasaannya ke negeri syam. Kota Damsyik ditaklukkannya, demikian
juga kota Hems,Humad ,Alrppo(Halab) dan diteruskannya ke Antakiyah, akhirnya
dimasukinya negeri Tharsus. Selama dia sendiri pergi memimpin peperangan itu,
puteranya Abbas dijadikannya wakil merajai dan mengatur negeri mesir. Tetapi
anak kesayangan itu tidak setia, sebab sepeninggalan ayahnya telah
dikumpulkannya segala perbendaharaan istana dan diangkutnya lari ke negeri
Barqah. Setelah pulang. Sangatlah murka si ayah, sehingga disusun satu tentara
buat pergi memerangi anak itu. Di tahun 267H. anak dapat dikalahkan dan
ditangkap. Setelah itu dia diluncurkan daripada haknya dan ditetapkan tempat
pengasingannya di iskandariah.
Sebagaimana dahulu telah pernah
ditulis, pembantu khalifah di Baghdad yang bernama Thalhah Al-Muwaffaq berusaha
hendak memperteguh kedudukan khalifah kembali. Dia berniat hendak mengembalikan
Mesir ke dalam kuasanya. Maka amat hebat permusuhan Ahmad bin Toulon dengan
Al-Muwaffaq. Dalam tahun 269H. terjadilah peperangan besar di antara kedua
belah pihak. Dalam peperangan itu Ahmad bin Toulon kalah. Setelah itu timbul
pula pemberontakan di Syam, maka Syam pun tidak dapat diprtahankannya lagi.
Maka setelah dia pulang ke Mesir pada tahun 270H, mangkatlah Raja yang keras
hati dan gagah perkasa itu, lalu digantikan oleh empat orang Amir
berturut-turut. Tetapi tidaklah keempat raja itu kuat lagi mempertahankan
pusaka Ahmad bin Toulon, sehingga pada tahun 296H(904 Masehi), jatuhlah Masir
kembali ke tangan bani Abbas
Hanya 46 tahun saja keturunan Toulon
itu berkuasa di Mesir.
B.Keturunan
Ikhsyidi
Khalifah Al-Mu’tadhid ingin hendak
menguasai Mesir kembali. Dalam tahun 285H, di zaman Mesir di bawah perintah
Amir Harun bin Khamarawaihi bin Ahmad bin Toulon, telah dicobanya mengirim
angkatan besar buat merampas mesir kembali. Tetapi sebelum maksud itu berhasil,
13
khalifah telah [9]mangkat,
lalu digantikan oleh khalifah Al-Muktafi Billah. Oleh karena di tahun 291H
khalifah dapat mengalahkan kaum Qaramitah, maka dia merasa bahwa kekuatan dan
kekuasaannya mulai teguh semula. Sebab itu dilanjutkannya kembali cita-cita
akan merebut Mesir. Di tahun 292H dikirimnya tentara besar sekali lagi di bawah
pimpinan pahlawan Muhammad bin Sulaiman. Mula-mula tentara itu pergi merampas
kembali kota Damsyik, setelah itu diteruskan serangannya ke Mesir, sehingga
lantaran kuat datangnya, tidaklah sanggup Amir Harun bin
Khamarawaihimempertahankan kota itu. Tentaranya pecah belah dan dia sendiri
mati terbunuh dalam perang. Maka yang tinggal ialah pamannya Syaiban bin
Toulon. Syaiban menyerahkan diri kepada sulaiman dan meminta diberi
perlindungan. Di dalam tawanan itu dapatlah dia melarikan diri. Dengan larinya
Syaiban, hapuslah kekuasaan bani Toulon di Mesir.
Namun begitu, tidak jugalah lama
kekuasaan khalifah bani ‘Abbas di Mesir. Sebab kian lama kekuatan di pusat
kedudukannya kian lemah pula. Janganlah berkuasa keluar, sedangkan di dalam
negeri, kekuasaanya telah jatuh. Setelah mengetahui hal yang demikian, maka
tidaklah terhambat lagi Wali-Negeri di Mesir, Abu Baka bin Muhammad bin Thagj
memaklumkan dirinya sendiri, terlepas dari khalifah.
Kejadian ini dalam tahun 323H
khalifah Ar-Radhi di Baghdad terpaksa mengakui kekuasaan itu. Selain daripada
menguasai Mesir, dia juga memaklumkan sebagai ‘yang Di-pertuan’ atas negeri
Syam. Jazirah dan Makkah serta Madinah. Amir Abu Bakar itu berasal dari negeri
Farghanah, bangsa turki juga. Ikhsyidi adalah gelar raja-raja di sana. Sebab
itu di pakainyalah gelar Ikhshidi itu untuk kebesaran.
Setelah itu ditaklukkan Damsyik
kembali dan diperbaikinya susunan negeri. Bila telah beres pekerjaannya itu,
kembalilah dia ke Mesir.
Oleh karena perselisihan sama sendiri
dan karena telah dipengaruhi kemewahan hidup, maka tidaklah lama kerajaan
keturunan Ikhsyid itu memerintah di Mesir, 32 tahun saja 323-355H(935-966
Masehi)
C.Keturunan
Fatimiyah (‘ubaidiyah)
Sebagaimana diketahiui, yang
mula-mula ialah kerajaan keturunan ‘Ubaidiyin di Afrika. Kepala perangnya yang
gagah berani, bernama ‘Jauhar’
14
asal dari Sicilia, disuruhnya menaklukkan Mesir dan
merampasnya dari tangan keturunan Ikhsyid. Jauhar dibantu oleh pahlawan seorang
kagi bernama Ja’far bin Falah. Di kampong Ramlah bertemulah kedua pihak tentara
itu. Keturunan Ikhsyid tidak dapat mempertahankan diri, sehingga terpaksa lari.
Setelah [10]takluk
Ramlah ditaklukkan pula Damsyik. Di ‘Ainu-Syams dapt dikalahkannya kaum
Qaramitah. Sampai kaum Qaramitah itu dikejar-kejar ke pusat negwerinya sendiri
Al-Ahsa dan Al-Qatif.
Oleh sebab itu
telah teguh kekuasaannya di Mesir, maka Jauhar mempersembahkan, bahwa
sdah selayaknya Sri Baginda Almu’izzu li-Dinillah memindahkan ibu kota
kekuasaanya dari Afrika ke Mesir. Untuk memperingati kebesaran dan kemenangan
itu didirikanlah negeri ‘Al-Qahirah’(Yang Menang), dan didirikan pula masjid
‘Al-Azhar’ (Yang Gemilang) untuk
mengajarkan faham yang dijadikan mazhab rasmi kerajaan, yaitu Syia. Nama
kerajaan ditukar dari ‘Ubaidah kepada Fatimiyah. Dibangsakan kepada Fatimah
anak perempuan junjungan kita Rasulullah s.a.w., sebab raja-raja itu
keturunannya. Bani ‘Abbas terdesak di mesir berdiri kerajaan baru yang teguh
dan kuat. Di zaman pemeritahan Fatimiyah itu sangatlah makmur, dan majunya
negeri Mesir menjadi tandingan dari Baghdad dan Cardova, 280 tahun lamanya
keturunan Fatimiyah memerintah Mesir.
D.Keturunan
Salahuddin
Yang
mendirikan kerajaan ini ialah Salahuddn Al-Ayyubi, yang dimasyurkan oleh bangsa
Eropa dengan nama ‘Saladin’, ia penangkis serangan Salib ketika ‘Perang Salib’
yang terkenal itu. Kerajaan Fatimiyah telah lemah kekuasaanya. Tidak sanggup
lagi menangkis serangan ‘Kaum Salib’ yang hendak menguasai Dunia Islam. Rajanya
waktu itu ialah Al-‘Adhid li-Dinillah, dia telah tua dan sakit-sakit. Nuruddin
Zanki raja di Negeri Syam mengutus Salahuddin ke sana, buat menduduki negeri
Mesir dengan tentaranya. Sebab pada mulanya Salahuddin adalah kepala perang di
bawah Raja Nuruddin.mlai dia dating ke sana, dihentikan Khutbah Jum’at memuji
khalifah fatimiyah, dikembalikan memuji khalifah Baghdad.
15
Dengan [11]mangkatnya
khalifah itu bulatlah kekuasaan pada Salahuddin. Setelah teguh kedudukannya di
sana, di panggilnyalah segala kaum keluarganya, terutama ayah dan
saudara-saudaranya supaya hidup bersama di negeri Mesir. Melihat kedudukan yang
teguh itu, banyaklah fitnah orang yang cemburu kepada Nuruddin. Salahuddin
dituduh hendak merampas Mesir buat dirinya, terlepas dari Nuruddin. Oleh karena
banyaknya fitnah itu, hingga dapat juga diterima akal Nuruddin. Maka di
lengkapnyalah tentara hendak menyerang Mesir dan menghajar Salahuddin.
Salahuddin telah bersiap pula, padahal musuh-musuh islam sedang meyusun segenap
tenaga melanjutkan peperangan merampas negeri islam. Sebelu terjadi hal yang
tidak diinginkan, tiba-tiba mangkatlah sultan Nuruddin Zanki Raja Syam itu, di
negeri Damsyik pada tahun 569H.
Oleh karena
putera Raja Syam masih kecil, maka Salahuddin mengakui dirinya Raja Mesir dan
‘pelindung’ Raja Syam. Akhirnya dengan terang-terangan dinyatakan kekuasaannya
yang penuh atas Mesir dan Syam, sebab telah dapat dikalahkannya Saifuddin Ghazi
dan Almalikus Saleh.
Di tahun
572H, dia kembali ke Mesir dan diangkatnya Tauran Syah menjadi Gubernur di
Syam. Dan kalau dia sedang di Syam, maka wazirnya Bahauddin menjalankan [12]titahnya
di Mesir.
117 tahun
lamanya keturunan Salahuddin memerintah negeri Mesir dengan nama ‘Daulat
Salahiyah’. Selama memerintah Mesir, dapat pula ditaklukkannya Syam,
ditaklukkannya pula negeri Arab, terutama Yaman, sehingga selain dari Mesir,
keluarganya memerintah jyga di Syam dan Yaman.
E.Kerajaan Mamalik Bahriyah
Dalam tahun
648H, berdirilah kerajaan Turki pertama di Mesir, bernama kerajaan ‘Mamalik
Bahriyah’. Mamalik adalah kata jamak (bilangan banyak), yang artinya
budak-budak. Najmuddin Ayyub seorang Raja keturunan
16
Salahuddin mempunyai puluhan hamba
sahaya sebagai pengiring, yang diduduki di pulau Raudhah. Oleh karena pulau
Raudhah terletak di laut, maka kaum Mamalik itu diberi berbangsa ‘Bahriyah’,
artinya lautan.
Keturunan
salahuddin yang akhir, tidak ada laki-laki. Hanya seorang perempuan bernama
‘Syajaratud-Dur’. Padahal menurut ulama-ulama pada masa itu, tidaklah boleh
perempuan menjadi Raja. Maka untuk mengatasi kesulitan ini, diangkatlah
‘Izzuddin Aibek Aljasyamkir menjadi ‘penilik dan pelindung’. Di tahun 648H,
terjadilah perkawinan pahlawan [13]‘penilik’
itu dengan tuan puteri yang bijaksana itu. Oleh Al-Asyraf Muzhiruddin dia
diakui langsung oleh sultan.
Dalam
pemerintahan Raja Mamalik yang bernama Ruknuddin Baibars Al-bundoqdari,
terjadilah penyerangan besar dari bangsa tartar, di bawah pinpinan Hulagu yang
masyhur. Waktu itulah kota Baghdad hancur dan musnah dan khalifah yang
penghabisan mati dibunuh oleh Hulagu. Maka Raja Ruknuddin itulah yang telah
sanggup menangkis serangan Tartar, sehingga negeri Mesir terlepas dari bahaya
yang sangat ngeri itu. Malaham sanggup pula dia mengatur serangan keluar Mesir,
yaitu ke Hormat, Damsyik dan kota-kota negeri Syam yang lain untuk mengusir
kaum Tartar itu.
Empat tahun
sesudah jatuh Baghdad, yaitu pada tahun 660H, datanglah ke negeri Mesir seorang
yang mengakui dirinya keturunan yang sah dari bani ‘Abbas, khalifah yang musnah
itu. Namanya yaitu Ahmad bin Az-zahir bin An-nasir li-Dinillah. Di dalam satu
Majlis Besar yang dihadiri oleh sultan Baibars, Syaikhul islam dan berpuluh
ulama serta cerdik pandai, diselidikilah sah tidaknya pengakuan itu. Maka
ternyatalah bahwa pengakuaan itu sah! Beliau saudata dari pada ayah Khalifah
yang terbunuh di Baghdad itu (Al-Mustansir).
Maka untuk
kemuslihatan kerajaannya, Ruknuddin Baibars telah mengikat suatu perjanjian
dengan keturunan Bani ‘Abbas itu. Dia diakui menjadi khalifah, menyambung
keturunan nenek moyangnya. Tetapi hendaklah dia mengakui pula karajaan Baibars.
Dia di pandang sebagai kepala agama tertinggi, tetapi tidak berkuasa di dalam
pemerintahan. Perjanjian ini di setujuinya! Tiap-tiap Raja Mesir kerajaan
Mamalik itu hendaknya naik nobat, khalifahlah yang melekatkan tanda kebesaran
ke atas kepalanya dan tiap-tiap berganti khalifah, Rajalah bernama Syaikhu17
Islam yang menyerahkan ‘pusaka tanda
kebesaran’ khalifah kepada yang naik nobat itu, yaitu ‘selendang Nabi, pedang
dan bendera’.
Lama juga
jawatan khalifah yang tidak berkuasa itu, sampai juga lebih dari 200 tahun dan
15 ‘Khalifah’ semuanya, barulah berhenti, setelah sultan Turki Usmani, Sultan
Salim menyerang Mesir dan Syam di tahun 922H. tanda-tanda khalifah dan kunci
kota Makkah dan Madinah diambilnya dari tangan khalifah yang penghabisan
(Al-Mutawakkil ‘Alallah). Dengan sebab itu, berpindahlah gelar ‘khalifah’ itu
dari keturunan bani ‘Abbas (Arab) ke tangan bani usman(Turki).
Di zaman
pemerintahan Raja Ruknuddin Baibars dahulu itu pula Togal Bey mendirikan
kerajaan bani Usman Asia Kecil! Raja Ruknuddin Baibars itu adalah Raja Mesir
yang gagah berani, terutama di dalam menentang bangsa Tartar, sehingga Mesir terlepas
dari bahaya Tartar itu.
F.Mamalik Jarakisyah
Keturunan
yang akhir dari Mamalik Bahriyah, namanya Haji As-Salih Zainuddin bin Asyaraf
Sya’ban, masih belum dewasa. Baru usia 6 tahun. Maka diangkatlah sebagai [14]pemangku
Raja, bernama Al-Malikuz-Zahir Barquq.
Oleh karena
dia menjadi ‘pemangku’ banyaklah kaum Mamalik bersyarikat hendak
menumbangkannya, kalau perlu membunuhnya. Setelah hal itu diketahuinya,maka
dikumpulkannyalah ahli-ahli dan orang terkemuka, tidak juga ketinggalan
khalifah Al-Mutawakkil. Menurut pendapat beliau, kalau muafakat jahat
sedemikian dibiarkan saja, tentulah negeri tidak aman dan kerajaan asing dapat
memasukkan pengaruhnya. Sebab itu dia meminta supaya Mesir diserahkan ke tangan
yang kuat. Anjurannya itu di setujui orang. Tentu saja yang di maksudnya dengan
tangan ‘yang kuat’ ialah dirinya sendiri. Dia diangkat orang menjadi sultan,
dan As-Salih Zainuddin diturunkan dari [15]jawatan
itu.
Memanglah
Barquq sultan yang kuat. Tidak salah pilihan orang atas dirinya. Sebab tidak
lama dia memerintah, tibalah serangan bangsa Tartar yang kedua kali, di bawah
pimpinan Timurlane, pahlawan yang masyhur.18
Telah banyak negeri yang ditaklukkan
dan [16]dijarahnya.
Tidak kurang ganasnya dari nenen moyangnya itu, dipotongi kepala orang dan
disusunnya serupa bukit. Raja Baghdad Sultan Ahmad bin Idris karena takut atas
bahaya, minta bantu ke Mesir. Barquq memberikan bantuan. Bantuan dikirim dan
Baghdad terpelihara.
DAFTAR PUSTAKA
·
Hamka Prof.Dr
, Sejarah Umat Islam, Jakarta: Bulan
Bintang, 1957 Cet IV
·
Edyar,
Busman, dkk, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Pustaka Asatruss, 2009
·
Sunanto Musyrifah Prof.Dr , Sejarah Islam Klasik,
Jakarta: Kencana, 2007 Cet III
[1] Tempat
yang tersedia di samping Mesjid,semacam madrasah
[2] Mereka
dinamai ‘Murabitin’ karena kuat persatuan dan kukuh disiplinnya. Disebut juga
Mulatsimin, sebab kebiasaan mereka membalut hujung serban menutup hidung.
[3] Hamka, SejarahUmmat
Islam, (Jakarta: NV. Nusantara, 1961), Jilid II, h.109.
[4]
Asyraafkata jamak dari Syarif. Biasanya keturunan Ali Bin Abi Thalib memakai
gelar Syed atau Sidi. Dan kalau mereka menjadi raja, mereka memakai Syarif. Dan
ada juga keturuna Husain memakai gelar Syed dan keturunan Hasan memakai Syarif.
[5][5]
Ibid., h.172
[6] Artinya
Raja
[7] Jika
kita baca riwayat-riwayat karangan Eropa, seakan-akan kerajan-kerajaan Islam
Afrika itu kerajaan bajak laut. Maka janganlah lupa, bahwa kerajaan- kerajaan
Eropa itu pada masa itu juga tidak banyak berbeda sifatnya dengan banyak laut,
terdiri dari kapal-kapal dagang ‘membajak darat’ negeri-negeri Timur, terutama
negeri-negeri Islam. Bila dibaca riwayat kompeni Belanda, tidaklah dapat
dipilihkan nama yang lain untuknya daripada ’Bajak Darat’.
[8]Khusyu’
[9]Sebutan
mati bagi orang yang terhormat
[10]Tunduk;
meyerah
[11]Sebutan mati bagi orang yang
terhormat
[12]perintahnya
[13]pengawas
[14]Orang yang mewakili
[15]Pangkat atau kebesaran
[16]Hasil rampasan dalam perang
0 comments:
Post a Comment