sejarah peradaban Islam pada Masa Nabi Muhammad Saw
A. LATAR BELAKANG
Sejarah
merupakan suatu rujukan yang sangat penting untuk mewujudkan masa depan yang
lebih baik. Berkaitan dengan itu kita bisa mengetahui kejadian-kejadian yang
terjadi pada masa lalu, terutama bagi umat Islam. Perkembangan Islam pada masa
Nabi Muhammad SAW melalui berbagai macam cobaan dan tantangan yang dihadap
untuk menyebarkannya. Islam berkembang dengan pesat hampir semua lapisan
masyarakat dipegang dan dikendalikan oleh Islam. Hal itu tentunya tidak terlepas
dari para pejuang yang sangat gigih dalam mempertahankan dan juga dalam
menyebarkan Islam sebagai agama Tauhid yang diridhoi. Perkembangan Islam pada
zaman inilah merupakan titik tolak perubahan peradaban kearah yang lebih maju.
Maka tidak heran para sejarawan mencatat bahwa Islam pada zaman Nabi Muhammad
SAW merupakan Islam yang luar biasa pengaruhnya.
Sosok
manusia terpopuler sepanjang masa telah lahir di padang pasir tandus menjelang
akhir abad keenam Masehi. Namanya paling banyak disebut, dan tak tertandingi
oleh tokoh dunia manapun di muka bumi. Keluhuran budi pekertinya menjadi suri
teladan bagi siapa pun yang mendambakan kedamaian dan kebahagiaan. Ajaran yang
dibawanya menjadi obor penerang bagi setiap pencinta kebenaran. Beliau adalah
Nabi terkahir yang diutus Tuhan kepada umat manusia an menjadi penyempurna dari
ajaran-ajaran yang dibawa oleh Nabi-nabi Allah terdahulu. Beliau lahir di
tengah-tengah masyarakat Arab jahiliyah yang menjadikan nafsu sebagai panglima,
mempertuhan materi dan kekayaan serta membanggakan nasab dan keturunan. Di
tengah-tengah masyarakat yang meraba-raba dalam kegelapan moral yang pekat,
beliau nyalakan pelita kebenaran. Beliau damaikan suku-suku yang bermusuhan dan
dipersatukannnya pula kabilah-kbilah yang terperangkap dalam kotak-kotak ashabiah yang berserakan dan menyesatkan
ke dalam sebuah keluarga besar “Islam”. Dua puluh tahun lebih beliau bekerja
keras dan akhirnya berhasil.
B.
RUMUSAN
MASALAH
1. Bagaimana
sejarah peradaban Islam pada Masa Nabi Muhammad Saw?
2. Peristiwa
apa saja yang terjadi pada masa Nabi Muhammad Saw?
3. Apa saja
yang menjadi tolak ukur keberhasilan pada masa nabi Muhammad Saw?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Bangsa
Arab sebelum Islam
Bangsa Arab
adalah penduduk asli jazirah Arab[1].
Semenanjung yang terletak di bagian barat Daya Asia ini, sebagian besar
permukaannya terdiri dari padang pasir. Secara umum iklim di jazirah Arab amat
panas[2],
bahkan termasuk yang paling panas dan paling kering di muka bumi.
Dari segi
pemukimannya, bangsa Arab dapat dibedakan atas ahl al-badwi dan ahl al-
hadlar. Kaum Badwi adalah penduduk padang pasir. Mereka tidak memiliki
tempat tinggal tetap, tetapi hidup secara nomaden, berpindah-pindah dari suatu
tempat ke tempat lain untuk mencari sumber mata air dan padang rumput. Mata
penghidupan adalah beternak kambing, biri-biri, kuda dan unta. Kehidupan
masyarakat Badwi yang nomaden tidak banyak memberi peluang kepada mereka untuk
membangun peradaban. Oleh karena itu, sejarah mereka tidak ketahui dengan tepat
dan jelas. Ahl al-hadlar ialah
penduduk yang sudah bertempat tinggal tetap di kota-kota tau daerah-daerah
pemukiman yang subur. Mereka hidup dari berdagang, bercocok tanam dan industri.
Berbeda dengan masyarakat Badwi, mereka memilki peluang yang besar untuk
membangun peradaban.
Dalam struktur
masyarakat Arab terdapat kabilah sebagai intinya. Ia adalah organisasi keluarga
besar yang biasanya hubungan natara anggota-anggotanya terikat oleh pertalian
darah (nasab). Akan tetapi, adakalanya hubungan seseorang dengan kabilahnya
disebabkan oleh ikatan perkawinan, suaka politik atau karena sumpah setia[3].
B.
Muhammad
Saw sebelum kenabian dan setelah diangkat menjadi Rasul
Rasulullah Saw
lahir dari kalangan bangsawan Quraisy. Ayahnya bernama Abdulah Ibn Abdi Al
Muthalib dan ibunya bernama Aminah binti Wahab. Garis nasab ayah dan ibunya
bertemu pada Kikab ibn Murah. Apabila ditarik keatas, silsilah beliau sapai
kepada Ismail as. Akan tetapi, nama-nama nenek moyang beliau yang diketahui
dengan jelas hanya sampai Adnan. Nama-nama di atas Adnan sampai kepada Ismail tidak
diketahui dengan pasti.
Kabilah Quraisy
terkenal sebagai pedagang yang menguasai jalur niaga Yaman-Hijaz-Syiria[4].
Mereka juga mendominasi perdangan lokal dengan memanfaatkan kehadiran para
penziarah Ka’bah, terutama pada musim haji. Kabilah Quraisy bertambah harum
ketika Qushai menjadi penguasa atas Mekkah setelah berhasil mengalahkan Bani
Khuza’ah. Hal ini berarti pengembalian tanggung jawab atas penjagaan dan
pemeliharaan Ka’bah serta pelayanan terahadap para penziarah Ka’bah kepada
keturunan Ismail. Penguasaan atas Mekkah, baik berkaitan dengan kegiatan niaga,
maupun keagamaan , menjadikan kabilah quraisy berpengaruh besar tidak saja di
Mekkah dan sekitarnya, melainkan di Jazirah Arab seluruhnya.
Ketika tanggung
jawab pemeliharaan Ka’bah dan pelayanan terhadap para penziarah rumah suci itu
berda di atas pundak abdi Al Muthalib ibn Hasyim, Mekkah diserang oleh Abrahah
yang bermaksud meruntuhkan Ka’bah. Ka’bah yang setiap musim dikunjungi oleh
para penziarah dari seluruh penjuru jazirah Arab, menjadikan kota Mekkah tidak
hanya penting secara politis, tetapi menguntungkan pula dari sisi ekonomi.
Lebih-lebih letaknya yang strategis pada jalur niaga Yaman-Hijaz-Syiria. Hal
inilah yang mendorong Abrahah melakukan serangan itu. Akan tetapi, serangan ini
gagal karena pasukan tentara penyerang itu diserang wabah penyakit yang
mengerikan[5].
Tahun ketika terjadi penyerangan tersebut disebut tahun gajah karena Abrahah
ketika itu memimpin pasukannya dengan menunggang seekor gajah yang besar.
Rasulullah saw dilahirkan
sebagai yatim pada hari senin 12 Rabi’ul awal tahun Gajah,bertepatan dengan 20
April 571. Ayahnya sudah wafat tiga bulan setelah menikahi ibunya. Abdul
Muthalib memberi nama cucunya itu Muhammad. Beliau disusui beberapa hari oleh
Tsuwaibah, sahaya Abu Lahab, kemudian dilanjutkan penyusuan dan pengasuhannya
oleh Halimah binti Dzuaib dari kabilah Bani sa’ad. Kendatipun hanya beberapa
hari Tsuwaibah menyusuinya, beliau pelihara terus silaturrahim dengannya,
demikian pula budi baik keluarga Halimah al-Sa’diyah tidak pernah dilupakan
sepanjang hayatnya.
Ketika berusia
lima tahun, beliau dikembalikan kepada Amina. Akan tetapi, setahun kemudian ibu
kandung yang amat dicintainya wafat. Abd al-Muthalib melanjutkan pengasuhan
atas cucunya sampai kakek yang bijak ini wafat dua tahun kemudian. Tanggung
jawab untuk mengasuh dan membesarkan Muhammad Saw selanjutnya dipikul oleh Abu
Thalib, salah satu putera Abd al-Muthalib yang paling miskin, tetapi sangat
disegani dan dihormati oleh penduduk Mekkah.
Pada malam Senin
17 Ramadhan tahun 13 sebelum Hijrah bertepatan dengan 6 Agustus 610 M, selagi
Muhammad berkhalwat di gua Hira, Jibril menyampaikan wahyu pertama.[6]
Setelah menerima wahyu itu Muhammad segera pulang dengan hati cemas dan badan
menggigil karena ketakutan. Beliau meminta Khadijah menyelimutinya. Setelah
tenang, beliau menceritakan peristiwa tersebut kepada istrinya. Khadijah
berusaha menenangkan beliau kemudian pergi menemui Waraqah ibn Naufal, saudara
sepupunya, meninggalkan beliau yang tertidur karena kelelahan. Waraqah Ibn
Naufal yang sudah memeluk agama Nasrani itu menceritakan kepada Khadijah bahwa
Muhammad diangkat menjadi Nabi dan yang diutus tersebut merupakan malaikat
Jibril.
Pada saat beliau tertidur lelap, turunlah
wahyu yang kedua.[7]
Setelah menerima wahyu yang kedua ini Muhammad bangkit lalu berkata kepada
isterinya, yang baru pulang dari rumah Waraqah, bahwa Jibril telah menyampaikan
perintah Tuhan agar beliau memberi peringatan kepada umat manusia, dan mengajak
mereka supaya beribadah dan patuh hanya kepada-Nya. Wahyu uang kedua ini
menandai penobatan Muhammad sebagai Rasulullah.
C.
Dakwah
Nabi Muhammad Saw pada periode Mekkah
1.
Langkah
Dakwah Nabi Muhammad Saw
Langkah pertama yang dilakukan adalah
berdakwah secara diam-diam di lingkungan keluarga terdekat seperti disebutkan
dalam Al-Qur’an.[8]
Beliau berusaha menjelaskan ajaran Islam kepada keluarga dan kawan dekatnya.
Mereka orang yang pertama-tama memeluk agama Islam baik dari kalangan keluarga
terdekat maupun sahabat disebut dengan Assabiqunal
Awwalun.
Setelah beberapa lama Rasululah
melakukan dakwah secara rahasia, maka turunlah perintah Allah agar beliau
melakukan dakwah secara terbuka di hadapan umum seperti telah dituturkan dalam
Al-Qur’an.[9]
Langkah pertama yang dilakukan Nabi Muhammad Saw dalam berdakwah secara terbuka
adalah mengundang dan menyeru kerabat dekatnya dari Bani Muthalib.
Kemudian Nabi Muhammad Saw mengajak
masyarakat umum. Mereka mulai mengajak ke segenap lapisan masyarakat, mulai
dari masyarakat bangsawan, hingga kelas hamba sahaya. Mula-mula ia menyeru
penduduk Mekkah, keudian penduduk negeri-negeri lain. Pertemuan dengan penduduk
Mekkah dilakukan di bukit Shafa. Dalam pertemuan itu Nabi Muhammad Saw
menjelaskan bahwa ia diutus oleh Allah untuk mengajak mereka menyembah Allah
dan meninggalkan penyembahan terhadap berhala.
Dengan seruan secara terbuka itu, Nabi
Muhammad dan Islam menjadi perhatian dan perbincangan di kalangan masyarakat
kota Mekkah. Masyarakat Quraisy beranggapan ajaran yang dibawa Nabi Muhammad Saw
tidak mempunyai dasar dan tujuan yang jelas. Oleh karena itu, mereka tidak
peduli dan berusaha menentangnya habis-habisan higga agama Islam tersebut
lenyap dari muka bumi ini. Selain itu, mereka memulai strategi untuk
mengacaukan kegiata dakwah Islam dan berusaha menghambat gerak laju
perkembangan agama Islam di kota Mekkah dan masyarakat Arab lainnya.
2.
Respon
Masyarakat Mekkah terhadap dakwah Nabi Muhammad Saw
Dakwah
Islam yang dilakukan Rasul baik secara diam-diam maupun secara terbuka,
mendapat tanggapan (respon) yang beragam. Ada yang menerima dan banyak pula
yang menolak. Sejumlah kecil mereka yang menerima ajaran Islam adalah para
sahabat dan keluarga dekat Rasulullah Saw, meskipun ada juga keluarga dekatnya
yang menolak misalnya, Abu Lahab.
Meskipun bisa
dikatakan bahwa masyarakat Arab di kota Mekkah ada yang menerima ajaran Islam
secara ikhlas, tapi pada umumnya masyarakat Arab kota Mekkah menolak dan tidak
menghendaki kehadiran Islam dan umat Islam dan umat Islma di kota tersebut. Hal
ini dapat kita lihat dari berbagai penghinaan bahka ancaman penbunuhan yang
ditujkan kepada Nabi Muhammad Saw dan umat Islam.
3.
Hambatan
dan Rintangan Dakwah Islam di Mekkah
Para
tokoh masyarakat Quraisy mulai menyebarkan isu yang tidak benar mengenai ajaran
yang dibawa Nabi Muhammad Saw sebagai salah satu cara untuk menghambat gerakan
Islamisasi sehingga banyak masyarakat yang terpengaruh oleh isu-isu yang
menimbulkan fitnah tersebut. Bahkan Abu Thalib, paman Nabi yang memelihara dan
mengasuhnya sejak kecil juga dihasut untuk melarang Nabi Muhammad Saw agar
tidak menyebarkan ajaran islam. Karena tidak tahan atas ancaman dan teror yang
diarahkan kepadanya, maka pada suatu ketika, Abu Thalib membujuk Nabi Muhammad
Saw agar bersedia menghentikan kegiatan dakwahnya.
Mereka yang
tidak senang dengan ajakan Nabi Muhammad Saw terus berusaha mengganggu dan
merintangi dakwah Nabi dengan berbagai cara, termasuk penyiksaan dan
pembunuhan. Mereka menerima siksaan di luar batas perikemanusiaan. Misalnya:
dipukul, dicambuk, tidak diberi makan dan minum. Bilal dijemur di bawah terik
matahari dan ditindih batu besar. Istri Yasir yang bernama Sumaiyah ditusuk
dengan lembing sampai terpanggang.
4.
Boikot
dan Rencana Pembunuhan terhadap nabi Muhammad Saw
Kegagalan
masyarakat kafir Quraisy dalam membujuk Nabi Muhammad saw untuk meninggalkan
dakwahnya justru memperkuat posisi umat Islam di kota Mekkah. Menguatnya posisi
umat Islam memperkeras reaksi kaum kafir Quraisy. Mereka mencoba menempuh
cara-cara baru, yaitu melumpuhkan kekuatan Nabi Muhammad Saw yang bersandar
pada perlindungan keluarga Bani Hasyim. Caranya adalah memboikot mereka dengan
memutuskan segala bentuk hubungan dengan Bani Hasyim. Tidak seortang pun dari
penduduk Mekkah yang diperkenankan melakukan hubungan jual beli dengan Bani
Hasyim. Persetujuan itu dibuat dalam bentuk piagam dan ditandatangani bersama
serta disimpan di dalam Ka’bah. Pemboikotan ini berlangsung selama lebih kurang
tiga tahun, yang dimulai pada bulan Muharram tahun ketujuh kenabian, bertepatan
dengan tahun 616 M. Di anatar isi piagam pemboikotan ini adalah sebagai berikut
:
1. Mereka
tidak akan menikahi orang-orang Islam
2. Mereka
tidak akan menerima permintaan nikah dari orang-orang Islam
3. Mereka
tidak akan berjual beli apa saja dngan orang-orang Islam
4. Mereka
tidak akan berbicara dan tidak akan menjenguk orang-orang Islam yang sakit
5. Mereka
tidak akan menerima permintaan damai dengan orang-orang Islam, sehinhgga mereka
menyerahkan Muhammad untuk dibunuh.
Akibat pemboikotan tersebut, Bani Hasyim
menderita kelaparan, kemiskinan, dan kesengsaraan yang tiada bandingnya.
Pemboikotan itu baru berhenti setelah beberapa pemimpin Quraisy merasa iba
dengan penderitaan yang dialami Bani Hasyim dan umat Islam. Akhirnya mereka
merobek isi piagam tersebut dan memusnahkannya. Dengan perobekan itu, otomatis
pemnboikotan itu berakhir.
D.
Strategi
Perjuangan Dakwah Nabi Muhammad Saw
1.
Hijrah
ke Habsyi yang pertama
Penyiksaan
dan penganiayaan kafir Quraisy yang diuar batas perikemanusiaan terhadap
orang-osang muslim membuat hati nabi tidak tahan melihat penderitaan itu.
Akhirnya Nabi Muhammad menyarankan kepada sahabatnya untuk mengungsi ke Habsyi
guna menghindar dari gangguan, siksaan dan ancaman orang-orang kafir Quraisy.
Pada bulan ketujuh tahun kelima kenabian berangkatlah 11 orang laki-laki
beserta 4 wanita kemudian rombongan berikutnya menyusul hingga jumlah yang
hijrah ke Habsyi mencapai 70 orang. Kedatangan orang-orang Islam di Habyi
disambut dengan baik oleh raja Nejus. Bahkan ia memberikan perlindungan dan
diizinkan untuk melaksanakan ibadah Islam. Keadaan itu berubah ketika
orang-orang Quraisy mengirim utusan kepada Raja Nejus. Mereka meminta agar Raja
Habsyi itu mengembalikan orang-orang mukmin ke negei asalnya, yaitu Mekkah.
Namun permintaan itu ditolaknya.
Ketika umat Islam berada di Habsyi
Rasulullah tetap tinggal di kota mekkah. Beliau tetus berusaha menyebarkan
Islam kepada masyarakat Quraisy, meskipun mendapat ancaman dan gangguan yang
luar biasa. Usaha Rasulullah Saw ini ternayat tidak sia-sia. Ia b erhasil
mempengaruhi beberapa tokoh Quraisy, misalnya, Hamzah bin Abdul Muthalib yang
masuk Islam pada tahun 615 M bertepatan pada tahun ke enam kenabian.
2.
Hijrah
ke Habsyi yang kedua
Umat
Islam yang hijrah ke Habsyi pertama berlangsung slama 2 bulan. Setelah itu
mereka kembali ke Mekkah. Melihat keberhasilan umat Islam untuk bertahan dan
mendapat perlindungan di Habsyi, kafir Quraisy semakin geram. Karena itulah,
Nabi Muhammad menyarankan kembali kepada umat Islam untuk hijrah ke Habsyi.
Hijrah kedua ini diikuti oleh 101 orang diantarnaya terdapat 18 orang wanita
yang dipimpin oleh Jakfar bin Abi Thalib.
Kepergian umat Islam yang kedua ini ke
Habsyi masih mendapat sambutan yang hangat dari Raja Nejus. Rupanya kebaikan
hati Raja Nejus ini membuat marah orang-orang kafir Quraisy. Mereka tidak tahan
dan terus berusaha untuk menghambat langkah perkembangan Islamdengan berbagai
cara. Melihat keseriusan orang-orang kafir Quraisy, Raja Nejus berusaha
mengumpulkan umat Islam untuk meminta penjelasan yang sebenarnya. Dalam
kesempatan ini Jakfar bin Abi Thalib bertindak sebagai juru bicara umat Islam
untuk menjelaskan hal yang sebenarnya mengenai ajaran Islam kepada Raja Nejus. Akhirnya
Raja mengerti dan Raja Nejus pun masuk Islam.
3.
Misi
ke Thaif
Tahun
kesepuluh kenabian, dikenal dengan tahun duka bagi Nabi Muhammad Saw sebab dua
orang yang sangat dicintainya meninggal dunia, yaitu Siti Khadijah dan Abu
Thalib. Dengan meninggalnya mereka, orang-orang kafir Quraisy semakin berani
mengganggu dan menyakiti Nabi Muhammad saw. Karen apenderitaan yang dialami
Nabi Muhammad semakin hebat, ia bersama Zaid berencana pergi ke Thaif guna
meminta bantuan serta perlindungan dari keluarganya yang berada di kota itu.
Akan tetapi mereka tidak mau meberikan perlindungan dan bantuan apaun kepada
nabi Muhammad Saw. Bahkan beliau diusir dan dihina dengan cara-cara yang tidak
manusiawi. Beliau diusir dan dilempari batu oleh pemuda kota Thaif.
4.
Perjanjian
aqabah
a.
Perjanjian
Aqabah I
Pada
tahun ke 12 kenabian, bertepatan dengan tahun 621 M, Nabi Muhammad Saw menemui
rombongan haji dari Yatsrib. Rombongan haji tersebut berjumlah sekitar 12
orang. Kepada mereka Nabi Muhammad menyampaikan dakwahnya. Seruan itu mendapat
sambutan hangat sehingga mereka menyatakan keislamannya di hadapan Nabi
Muhammad. Pertemuan tersebut terjadi di salah satu bukit di kota Mekkah, yaitu
bukit Aqabah. Disini mereka mengadakan persetujuan untuk membantu Nabi Muhammad
dalam menyebarkan Islam.
Isi perjanjian aqabah
itu antara lain sebagi berikut :
1. Mereka
menyatakan setia kepada Nabi Muhammad
2. Mereka
menyatakan rela berkorban harta dan jiwa
3. Mereka
bersedia ikut menyebarkan ajaran Islam yang dianutnya
4. Mereka
menyatakan tidak akan menyekutukan Allah
5. Mereka
menyatakan tidak akan membunuh
6. Mereka
menyatakan tidak akan mralkukan kecurangan dan kedustaan.
b.
Perjanjian
Aqabah II
Pada
tahun ke 13 kenabian, bertepatan dengan tahun 622 M, jamaah Yatsrib datang
kembali ke kota Mekkah untuk melaksanakan ibadah haji. Jamaah itu berjumlah
sekitar 73 orang. Setibanya di kota Mekkah, mereka menemui Nabi Muhammad
menyampaikan pesan berupa permintaan masyarakat Yatsrib agar Nabi Muhammad
bersedia datang ke kota Mekkah, memberikan penerangan tentang ajaran islam dan
sebagainya. Permohonan itu dikabulkan Nabi Muhammad dan beliau menyatakan
kesediannya untuk datang dan berdakwah disana. Untuk memperkuat kesepakatan
itu, mereka mengadakan perjanjian yang disebut perjanjian aqabah yang kedua
yang berisi :
1. Penduduk
Yatsrib siap dan bersedia melindungi Nabi Muhammad
2. Penduduk
Yatsrib ikut berjuang dalam membela Islam dengan harta dan jiwa
3. Penduduk
Yatsrib ikut berusaha memajukan agama Islam dan menyiarkan kepada sanak
keluarga mereka
4. Penduduk
Yatsrib siap menerima segala resiko dan tantangan.
E.
Dakwah
Nabi Muhammad Saw pada periode Madinah
1.
Hijrah
ke Yatsrib
Setelah
Baiah Aqabah Kedua tindakan kekerasan terhadap kaum muslimin makin meningkat,
bahkan musyrikin Quraisy sepakat akan membunuh Rasulullah. Menghadapi kenyataan
ini Rasulullah menganjurkan para sahabatnya untuk segera pindah ke Yatsrib.
Rasulullah meninggalkan Mekkah setelah seluruh kaum muslimin, kecuali Ali dan
keluarganya serta Abu Bakar dan keluarganya, sudah keluar dari Mekah. Ketika
akan berangkat, Rasulullah meminta Ali untuk tidur di kamarnya guna mengelabui
musuh yang berencana membunuhnya. Beliau berangkat ke gua Tsur, arah selatan
Mekah, ditemani oleh Abu Bakar.
Mereka bersembunyi di gua Tsur selama tiga
malam. Tidak ada yang tahu tentang keadaan dan tempat persembunyian mereka
selain putera pteri Abu Bakar sendriri, Abdullah, Aisyah, dan Asma’ serta
sahayanya, Amir ibn Fuhairah. Merekalah yang mengirimkan makanan setiap malam
dan menyampaikan kabar mengenai pergunjingan penduduk Mekah tentang Rasulullah.
Pada malam yang ketiga mereka keluar dari persembunyiannya untuk melanjutkan
perjalanan menuju Yatsrib ditemani oleh Abdullah ibn Abi Bakar dan Abdullah ibn
Arqad, seorang musyrik yang bertugas selaku penunjuk jalan.
Senin
tengah hari 8 Rabiul Awwal Rasulullah tiba di Quba, sekitar 10 kilometer dari
kota Yatsrib. Selama tinggal di Quba beliau menginap di rumah Kultsum ibn
Hadam, seorang laki-laki tua yang rumahnya biasa dijadikan pangkalan bagi
orang-orang yang baru datang ke Yatsrib. Adapun Abu Bakar menginap di rumah
Hubaib ibn Isaf atau Kharijah ibn Zaid. Pada saat itulah masjid pertama dibangun
di sini atas saran Ammar ibn Yasir. Rasulullah sendiri yang meletakkan batu
pertama di kiblatnya, diikuti oleh Abu Bakar, kemudian diselesaikan oleh para
sahabatnya. Tiga hari kemudian Ali ibn Abi Thalib tiba pula di Quba setelah
menempuh perjalanan selama 15 hari. Ia bergaung dengan Rasulullah tinggal di
rumah ibn Hadam. Keesokan harinya, Jumat 12 Rabiul Awal bertepatan dengan 24
September 622 M rombongan Muhajirin ini melanjutkan perjalanan ke Yatsrib.
Kedatangan
Rasulullah disambut hangat penuh kerinduan oleh kaum Anshar. Kemudian unta Nabi
berhenti di salah satu kebun yang ditumbuhi beberapa pohon kurma, bersebelahan
dengan rumah Abu Ayyub. Kebun ini milik dua anak yatim bersaudara yang diasuh
oleh Abu Ayub, bernama Sahl dan Suhail, putera Rafi’ ibn Umar. Atas permintaan
Mu’adz ibn Ahra’, kebun ini dijual, dan diatasnya dibangun masjid atas perintah
Rasulullah. Sejak kedatangan Rasulullah, Yatsrib berubah namanya menjai Madinah al-Rasul atau al-Madinah al-Munawwarah.
2.
Pembinaan
Masyarakat dan Peletakan Dasar-dasar Kebudayaan Islam
Pekerjaan
besar yang dilakukan Rasulullah dalam periode Madinah adalah pembinaan terhadap
masyarakat Islam yang baru terbentuk. Dasar-dasar kebudayaan yang diletakkan
oleh Rasulullah itu pada umumnya merupakan sejumlah nilai dan norma yang
mengatur manusia dan masyarakat dalam hal yang berkaitan dengan peribadatan,
sosial, ekonomi dan politik yang bersumber dari al-Qur’an dan al-Sunnah.
Lembaga utama dan pertama yang dibangun Rasulullah dalam rangka pembinaan
masyarakat ini adalah masjid. Pertama masjid Quba, selang beberapa hari
kemudian Masjid Nabawi dibangun setelah Rasulullah tiba di Yatsrib.
Muhammad
ternyata bukan hanya seorang Nabi dan Rasul, tapi juga seorang ahli politik
yang ulung dan diplomat yang bijak, sebagai pahlawan perkasa di medan perang,
dan sebagai ksatria dalam memperlakukan musuh yang kalah. Kepiawannya
berpolitik antara lain ditunjukkan dalam perjanjian damai dengan penduduk non
muslim Madinah. Dengan perjanjian iyu, kota Madinah menjadi Madinah al-Haram dalam arti yang
sebenarnya. Perjanjian ini kemudian dikenal dengan Piagam Madinah.
Beberapa
asas masyarakat Islam yang telah diletakkan oleh Rasulullah antara lain al-ikha (persaudaraan), al-musawah (persamaan), al-tasamuh (toleransi), al-tasyawur (musyawarah), al-ta’awun (tolong menolong), al-adalah (keadilan). Atas dasar ini
pula Rasulullah mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar.
3.
Memelihara
dan Mempertahankan Masyarakat Islam
a.
Rongrongan
kaum Yahudi
Kaum
Yahudi Madinah yaitu Bani Qainuqa, Bani Nadlir dan Bani Quraidhah sejak semula
sudah mempercayai akan datangnya nabi akhir zaman sebagaimana dijelaskan dalam
kitab suci mereka tetapi mereka ingkar.
Kira-kira
setahun kemudian setelah pengusiran Bani Qainuqa pada akhir tahun kedua setelah
hijrah, Amr ibn Jahasy dari Bani Nadlir mencoba hendak membunuh Rasulullah. Ia
menjatuhkan batu dari atas tembok tempat
beliau dan para sahabatnya beristirahat. Atas penghianatan itu, perkampungan
mereka dikepung selama 16 hari, dan mereka diusir dari Madinah.
Pengusiran
terhadap Bani Nadlir mendorong mereka untuk bersekutu dengan kabilah-kabilah
besar Arab seperti Quraisy, Ghathfan, Bani Murrah dan lain-lain untuk
bersama-sama menyerang Madinah. Terjadilah perang Ahzab pada tahun 5 H. Kota
Madinah dikepung, sehingga kaum muslimin terancam kelaparan. Ketika musuh
menghentikan pengepungan dan meninggalkan Madinah tanpa hasil sedkit pun, kaum
muslimin mengepung perkampungan Quraidhah selama 25 hari. Karena penghianatannya,
mereka dihukum mati, sementara anak-anak dan perempuan meraka ditawan.
b.
Rongrongan
orang-orang munafik
Ketika
Rasulullah bersiap untuk menghadapi perang Uhud, kaum munafik keluar dari
barisan yang dipersiapkan itu atas hasutan Abdullah ibn Ubai, pemimpin mereka.
Mereka juga mengadakan hubungan baik dengan kaum Yahudi dan pernah menjanjikan
bantuan kepada bani Quraidhah sewaktu yang disebut terakhir ini mengianati kaum
muslimin. Terhadap orang-orang munafik ini Rasulullah bersikap lunak sambil berusaha
menyadarkan mereka supaya beriman secara benar. Usaha Rasulullah tidak sia-sia,
ternyata kelompok orang munafik ini tidak ditemukan lagi setelah Abdullah ibn
Ubay meninggal dunia.
c.
Rongrongan
kafir Quraisy dan sekutunya
Perang
sebagai jawaban atas sikap permusuhan kafir Quarisy terjadi pertama kali di
lembar Badar pada tanggal 17 Ramadhan 2 H. Dalam al-Qur’an peristiwa itu
disebut yaum al-furqan, artinya hari
pemisah antara yang hak dan yang batil. Kendatipun jumlah pasukan Islam jauh
lebih kecil dari pasukan Quraisy, namun mereka berhasil meraih kemenangan.
Sementara itu, kafir Quarisy bertekad membalas kekalahan itu dengan
mempersiapkan 3000 pasukan dengan perbekalan yang cukup dan persenjataan yang
lengkap. Turut ambil bagian dalam pasukan itu, Arab Tihamah, Kinanah, Bani
Harits, Bani Haun, dan Bani Musthaliq. Pada bulan Sya’ban 3 H terjadilah perang
Uhud. Dalam peristiwa ini umat Islam menderita kekalahan. Kurang lebih 70 orang
sahabat Rasulullah gugur sebagai syuhada, termasuk di antaranya Hamzah ibn Abd
al-Muthalib, paman Rasulullah.
Sementara kaum kafir Arab
meningkatkan kerjasama untuk menyempurnakan kemenangan mereka, Bani Nadlir
mencoba melakukan pembunuhan atas diri Rasulullah, namun gagal dan mereka
diusir dari Madinah. Mereka kemudian bersekutu dengan kafir Quraisy dan
kabilah-kabilah Arab lain yang memusuhi Islam. Bulan Syawal 5 H kurang lebih
14000 tentara, diantaranya 4000 dari Quraisy di bawah pimpinan Abu Sufyan,
menyerbu Madinah. Menghadapi serbuan ini Rasulullah memilih bertahan di dalam
kota. Atas saran Salman al-Farisi, di bagian utara kota digali parit yang lebar
dan dalam, sementara di bagian yang lain dijaga ketat dengan menutup setiap
lorong untuk masuk ke dalam kota. Perang ini dikenal dengan perang Khandaq,
karena kaum muslimin meggunakan parit (khandaq) sebagai benteng pertahanan.
Dikenal pula dengan perang Ahzab, karena musuh yang menyerang Madinah terdiri
dari berbagai golongan yang bersekutu.
4.
Fase
Perjuangan setelah Perang Ahzab
Pada
bulan Dzu al-Qa’dah 6 H Rasulullah dan sekitar 10.000 sahabatnya berangkat ke
Mekah untuk menunaikan umrah dan haji. Tidak ada senjata yang mereka bawa
selain pedang yang tersimpan pada sarungnya sekedar untuk menjaga diri selama
dalam perjalanan. Kafir Quarisy tidak menghendaki kaum muslimin memasuki kota
Mekah karena menurut mereka hal ini berarti kemenangan bagi kaum muslimin. Oleh
karena itu, mereka mengirim pasukan di bawah pimpinan Khalid bin Walid untuk
menghadang rombongan Rasulullah. Kaum muslimin dapat menghindari pertemuan
dengan pasukan Khalid dengan menempuh jslsn lsin, sehingga meeka sudah sampai
di Hudaibiyah, beberapa mil dari kota Mekah.
Rasulullah bermusyawarah dengan para
sahabat, dan memutuskan untuk mengutus Utsman bin Affan guna menyampaikan
maksud kedatangan mereka. Akan tetapi Utsman bin Affan ditahan dan timbul
desas-desus bahwa Utsman dibunuh. Kemudian rasulullah dan para sahabatnya
mengadakan sumpah setia untuk berperang sampai tercapai kemenangan yang disebut
baiah al-ridlwan karena diridhai oleh Allah swt. Sumpah setia
ini menggetarkan nyali musyrikin Quraisy, sehigga mereka membebaskan Utsman dan
mengirim Suhail ibn Amr al-Amiri untuk mengadakan perjanjian damai dengan kaum
muslimin. Perjanjian ini dikenal dengan Perjanjian
Hudaibiah yang pokok-pokoknya sebagai berikut :
1. Segala
permusuhan antara kedua belah pihak dihentikan selama 10 tahun
2. Setiap
orang Quraisy yang datang kepada kaum muslimin tanpa seizin walinya harus
ditolak dan dikembalikan
3. Setiap
orang Islam yang menyerahkan diri kepada
pihak Quraisy tidak akan dikembalikan
4. Setiap
kabilah yang ingin bersekutu dengan kaum Quraisy maupun dengan kaum muslimin
tidak boleh dihalang-halangi oleh salah satu pihak yang membuat perjanjian ini.
5. Kaum
muslimin tidak boleh memasuki Mekah pada tahun ini, namun diberi kesempatan
pada tahun berikutnya dengan syarat tidak membawa senjata, kecuali pedang dalam
sarungnya dan tidak tinggal di Mekah lebih dari tiga hari.
Kaum
muslimin berhasil memasuki kota Mekah tanpa setetes darah pun pada tahun 20
Ramdhan tahun 8 H. Para penakluk kemudian berthawaf menegelilingi Ka’bah dan
menghancurkan patung-patung yang ada di rumah suci itu. Peristiwa ini dikenal
dengan Fathu Mekah (pembebasan
Mekah).
Pada
bulan Rajab 9 H bertepatan dengan Oktober 630 M, Rasulullah mempersiapkan
pasukan untuk meghadapi tentara Romawi di Utara. Pasukan Romawi yang semula
akan menyerang Islam, mundur kembali ke negerinya stelah melihat betapa besar
jumlah pasukan kaum muslimin yang dipimpin Rasululah tak kena mundur. Peristiwa
ini dikenal dengan Perang Tabuk.
Oleh
karena itu, sejak tahun 9 H (630/631 M) para utusan kabilah-kabilah Arab datang
berbondong-bondong menghadap Rasulullah menyatakan masuk Islam. Mereka itu
antara lain Bani Tsaqif, dari Thaif, Bani Asad dari Najd, Bani tamim disusul
kemudian oleh perutsan dari Yaman dan sekitarnya pada tahun 10 H. Dengan
demikian, tahun ini disebut dengan tahun perutusan atau ‘am alwufud.
F.
Haji
Wada’ dan Akhir Hayat Rasulullah
Setelah
tercipta ketenangan di seluruh jazirah Arab, Rasulullah bermaksud menunaikan
haji ke Baitullah. Pada tanggal 25 Dzu al-Qa’dah 10 H, beliau bersama-sama
dengan sekitar 100.000 sahabatnya berangkat meninggalkan Madinah menuju Mekah. Pada
tanggal 8 Dzu al-Hijjah yang disebut hari Tarwiyah Rasulullah bersama
rombongannya berangkat menuju Mina dan pada waktu fajar hari berikutnya mereka
berangkat ke Arafah.
Tepat
tengah hari di Arafah, beliau menyampaikan pidato yang amat penting, yang
dikenal dengan khuthbah al-wada’i
(pidato perpisahan). Beliau menyampaikan amanat dari atas punggung unta dan
meminta Tabi’ah ibn Umayyah ibn Khalaf untuk mengulang dengan keras setiap
kalimat yang beliau ucapkan. Pada setiap kalimat yang beliau ucapkan, haus
didengar oleh setiap orang dan wajib disampaikan kepada orang-orang yang berada
di empat yang jauh. Pidato Rasulullah itu amat penting, karena mengandung pesan
yang amat berharga untuk pedoman hidup manusia, baik yang berkaitan dengan
hubungan antar manusia maupun hubungan manusia dengan Penciptanya.
Kira-kira tiga
bulan sesudah menunaikan ibadah haji yang penghabisan itu, Rasulullah mendertia
demam beberapa hari. Beliau menunjuk Abu Bakar untuk menggantikan beliau
mengimami shalat jamaah. Pada hari Senin 12 Rabiul Awwal 11 H bertepatan dengan
8 Juni 632 M, Rasulullah mengembuskan nafasnya yang terakhir, menghadap ke
hadirat Allah Swt dalam usia 63 tahun.
BAB III
PENUTUPAN
1.
Kesimpulan
Dari
pembahasan yang telah disebutkan dapat disimpulkan bahwa sejarah peradaban Islam
dimasa Nabi Muhammad SAW banyak melewati rintangan-rintangan dan penganiayaan
diluar batas manusia. Namun demikian orang muslim selalu bersabar dan istiqamah
di jalan-Nya. Begitu juga dengan Nabi Muhammad SAW selalu bersabar dan
istiqamah dalam menyiarkan agama islam dari periode Mekkah hingga Periode
Madinah.
Nabi Muhammad SAW bukan hanya sebagai seorang Rasulullah yang di utus untuk
menyebarkan ajaran Islam, melainkan juga sebagai pemimpin negara yang pandai
dalam berpolitik, sebagai seorang panglima perang serta seorang administrator
yang cakap, hanya dalam waktu kurun waktu singkat Rasulullah bisa menaklukkan
seluruh Jazirah Arab.
Pada
akhirnya, perjuangan Nabi Muhammad SAW membuahkan hasil, yaitu berkembangnya
islam dengan pesat, tidak hanya di Madinah bahkan di Mekkah juga, yang ditandai dengan terjadinya peristiwa Fathul Mekkah.
2.
Kritik
dan Saran
Demikianlah
yang dapat kami paparkan dalam makalah kami, untuk kepentingan kita bersama
kami sbagai penulis dan Anda pembaca, sekirannya dapat memberi saran atau
kritikan yang membangun serta tanggapan guna untuk memperbaiki atau tambahan bahasan kami dalam makalah ini.
DAFTAR PUSTAKA
Syalabi,
A. Sejarah dan Kebudayaan Islam.
Terj. Mukhtar Yahya, dkk. Jilid I. Jakarta: Pustaka al-Husna, 1994
Yatim Badri, Sejarah Peradaban Islam Dirasah
Islamiah II, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2011)
Abdurrahman Dudung. Sejarah Peradaban Islam dari masa Klasik hingga Modern.Cetakan
Pertama, 2003
2.
Ibid;
hlm. 4-5
3.
Umar
Farrukh, al-‘Arab wa al-Islam fi al-
Haudl al- Syarqiy min al-Bahr al-Abyad al-Mutawassith
[4]
Lihat al-Qur’an: 106; Quraisy, 1-3
[5]
Penyerangan Abrahah ke Mekkah ini diabadikan dalam al-Qur’an :105;
Al-fiil, 1-5
[6]
QS. Al-
‘Alaq : 1-5
[7] QS. Al Mudatsir
: 1-7
[8]
QS.
As-Syu’ara :214
0 comments:
Post a Comment